Gaul.

Manusia, seringkali 'take things for granted'.
Biasanya benda-benda besar kita nampak namun perkara kecil sering kita remehkan... sedangkan perkara yang dikatakan remeh itulah yang mungkin menentukan ke mana destinasi kita di akhirat kelak.


Saya maksudkan hubungan dengan keluarga, jiran dan sahabat-sahabat yang dekat dengan kita.
Bagaimanakah kita menyantuni mereka?


Kadang-kadang, kita fikir disebabkan kita rapat dengan orang itu, maka mereka patut menerima kita seadanya walaupun kita banyak berbuat salah kepada mereka.
Kitalah yang harus memegang pemikiran sebegitu. Bukan mengharapkan orang lain...
Sebagai sahabat, tetangga, anak, adik, kakak atau abang, wajar bahkan wajib untuk kita menyantuni mereka dengan baik dan cermat.


Cuba kita fikirkan sebentar, adakah pernah terdapat kata-kata kita yang menyakiti orang yang terdekat dengan kita? Mungkin tidak kita sedari perkara ini. Atau kita menyangka orang itu tidak marah atau berkecil hati sebab 'kita kan kawan'...


Barangkali terpengaruh dengan cerita-cerita di tv, dimana ada watak-watak sekelompok sahabat yang terlalu jujur antara satu sama lain, hingga ke tahap menghina kawan secara gurauan pun tidak menjadi masalah.


Dari satu sisi, kejujuran mereka itu harus kita contohi. Namun tidaklah sampai akhirnya terlalu jujur hingga menyakiti orang-orang di sekeliling kita dan menyebabkan mereka menjauh dari kita..


"Sesungguhnya manusia paling buruk kedudukannya di sisi Allah adalah orang yang ditinggalkan manusia lain karena ditakut keburukannya.” (HR Imam Bukhari, Muslim, Abu Daud dan At Tirmidzi)


Semoga kita dijauhkan dari termasuk golongan di atas...
Jujur, itu pasti... Mempunyai sifat rahmah terhadap orang yang dekat dengan kita juga haruslah seiring.


Indahnya Islam, mengajar kita untuk sederhana dalam segala segi.


Jangan melampau, dan jangan meremehkan segala sesuatu. Meskipun titik tengah itu terkadang sukar untuk kita temui, insyaAllah usaha kita ke arah itu sentiasa dinilai olehNya insyaAllah...


Dari ‘Ummul Mu’minin ‘Aisyah ra berkata: Rasulullah Salallahualaihiwassalam bersabda :


“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR At-Tirmidzi) 


Cermatilah gurauan yang kita lemparkan.
Hati-hati dengan kata-kata yang kita lontarkan.
Meskipun kita tidak menyukai seseorang, itu bukan lesen untuk kita melayaninya dengan buruk..
Allah itu Maha Pengasih. Dia tidak akan menghukum kita atas apa yang di dalam hati kita, namun Allah akan hukum kita atas apa yang kita lakukan dengan anggota kita.


Terkadang Allah menguji kita dengan orang-orang yang berada di sekeliling kita.
Kita disakiti, adakah kita akan turut menyakiti?
Atau kita tetap memaniskan muka terhadap orang-orang yang mungkin belum memahami?


“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” ( Luqman: 18).


Ibnu Katsir menjelaskan mengenai ayat tersebut, “Janganlah palingkan wajahmu dari orang lain ketika engkau berbicara dengannya atau diajak bicara. Muliakanlah lawan bicaramu dan jangan bersifat sombong. Bersikap lemah lembutlah dan berwajah cerialah di hadapan orang lain” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 11: 56).


Susahlah kan hidup ni kalau semua benda nak stress memanjang. Orang yang melihat wajah kita pun jadi serabut. Banyakkan senyum, sedekah free dengan mengeluarkan tenaga dan kontraksi otot yang sedikit :p


Makanya... harus merendahkan hati. Tawadhu' itu amalan hati yang memerlukan hati yang bersih. Sekadar nasihat untuk diri sendiri terutamanya, berusahalah untuk melembutkan hati dalam berbicara.


Bukanlah salah untuk menyampaikan pendapat kita, namun nada yang lembut dan bahasa yang elok itu lebih lunak pada telinga pendengar, bukan? Saya sendiri merasai kesukaran ini, mungkin kerana kononnya tegas jadi percakapan pun tidak terlalu diperhatikan. -_-'
Mungkin sebab tu sekarang dah jadi makin pendiam.
(Not good sebab macam mengelakkan sesuatu tanpa memperbaikinya. Doakan saya ya.)


Apapun sebagai dai'e, suka tak suka, kena jadi approachable. Bukan peramah, kena jadi peramah.
Tak suka senyum, kena banyak senyum. Suka menyorok dalam bilik, kena rajin keluar berjumpa adik-adik.
Pokoknya akhlak kita kena sentiasa diperbaiki dan diperhatikan.


“Sesungguhnya kalian tidak bisa menarik hati manusia dengan harta kalian. Akan tetapi kalian bisa menarik hati mereka dengan wajah berseri dan akhlak yang mulia” (HR. Al Hakim dalam mustadroknya. Al Hakim mengatakan bahwa hadits ini shahih).


Akhirul kalam, semoga kita menjadi manusia yang sentiasa bergerak ke arah kebaikan. Semoga dosa-dosa kita tidak membelenggu kita daripada kembali kepadaNya.

Tipsnya mudah. Peliharalah hubungan dengan Allah. Jangan pernah meninggalkan al-Quran dan mentadabburi ayat-ayatnya kerana di situlah sumber hidayah buat kita sehari-hari...



"dan barangsiapa berpaling dari pengajaran Allah yang Maha Pengasih (al-Quran) , Kami biarkan syaitan (menyesatkannya) dan menjadi teman karibnya" ( Az-Zukhruf 43: 36 )


Gerun bila fikir jika Allah meninggalkan kita, dan di tangan syaitan pulak tu. Memang prognosis buruklah jawabnya. huhu. 


Jom menjadi manusia yang lebih baik! biiznillah... :)




p/s: Adik-adik cakap muka makin berseri-seri sejak kebelakangan ni. Iyolah tu. Nampak sangat rinduu. ekeke


p/s2: Akibat lama tidak menulis, tanda-tanda berkarat sudah kelihatan.


 Kita hanya manusia, dan manusia sering terlupa. Marilah mengingatkan sesama kita, moga berjumpa di syurga~

Reminder for the soul

“Aku hairan dengan orang yang mengetahui kematian, tapi mengapa ia masih tertawa;

Aku hairan dengan orang yang tahu bahawa dunia adalah sementara, tapi mengapa ia sangat mencintainya;

Aku hairan dengan orang yang mengetahui semua urusan telah ditakdirkan, tapi mengapa ia takut kehilangan;

Aku hairan dengan orang yang mengetahui bahwa hisab adalah suatu kepastian, tapi mengapa ia tetap mengum
pulkan harta dan menghitung-hitungnya;

Aku hairan dengan orang yang mengetahui panasnya api neraka, tapi mengapa ia tetap berbuat dosa;

Aku hairan dengan orang yang mengaku mengenal Allah, tapi mengapa ia meminta tolong kepada selain-Nya;

Aku hairan kepada orang yang mengaku mengetahui kenikmatan syurga, tapi mengapa ia merasa hidup tenang di dunia;

Dan aku hairan kepada orang yang mengetahui syaitan adalah musuhnya, tapi mengapa ia mentaatinya.”

Uthman bin Affan Radhiyallahu anhu
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Masa umpama pedang