pergantungan pada manusia

Kadang-kadang rasa sedih. Rasa sedih bila semua usaha terasa macam tak dihargai.
Rasa macam tertanya-tanya kenapa dia baik dengan orang lain tapi biasa-biasa je dengan aku.
Aneh bukan?
Kenapa terasa penting apa fikiran makhluk. Pastu macam tak puas hati pulak dengan orang lain. Astaghfirullah-___-
Tapi bila fikir balik, mungkin[memang pun] semua tu berasal dari kesilapan diriku sendiri.
Kurang memahami, kurang ibadah, kurang ilmu.
Bila orang tak tersentuh dengan apa yang kita sampaikan, kita tak boleh salahkan orang yang mendengar.
Pasti ada kekurangan mana-mana pada diri kita yang menyebabkan ada hijab diantara kita dan orang lain...
Hidayah bukan di tangan kita.


Kenapa harus rasa sedih bila rasa macam tak dihargai?
Tiada pergantungan melainkan kepada Allah.

Usah sedih bila manusia meninggalkan kita. 
Cukuplah Allah sebagai wakilku.
Mungkin itu petanda kurangnya keikhlasanku.
Nak nampak baik je, tapi tiada ruh pada apa yang dilakukan.
Astaghfirullah..
Perbaiki diri.






***harap xde siapa baca post ni.huuu
***feels so small as small as this font

Kita hanya manusia, dan manusia sering terlupa. Marilah mengingatkan sesama kita, moga berjumpa di syurga~

Reminder for the soul

“Aku hairan dengan orang yang mengetahui kematian, tapi mengapa ia masih tertawa;

Aku hairan dengan orang yang tahu bahawa dunia adalah sementara, tapi mengapa ia sangat mencintainya;

Aku hairan dengan orang yang mengetahui semua urusan telah ditakdirkan, tapi mengapa ia takut kehilangan;

Aku hairan dengan orang yang mengetahui bahwa hisab adalah suatu kepastian, tapi mengapa ia tetap mengum
pulkan harta dan menghitung-hitungnya;

Aku hairan dengan orang yang mengetahui panasnya api neraka, tapi mengapa ia tetap berbuat dosa;

Aku hairan dengan orang yang mengaku mengenal Allah, tapi mengapa ia meminta tolong kepada selain-Nya;

Aku hairan kepada orang yang mengaku mengetahui kenikmatan syurga, tapi mengapa ia merasa hidup tenang di dunia;

Dan aku hairan kepada orang yang mengetahui syaitan adalah musuhnya, tapi mengapa ia mentaatinya.”

Uthman bin Affan Radhiyallahu anhu
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Masa umpama pedang