Assalamualaikum.... Terasa nak mencoretkan sesuatu di sini.
Saat untuk mentidakserabutkan keserabutan di kepala. Menulis itu terapi... Kadang-kadang kepala membuak-buak meminta untuk disalurkan ke mana-mana. Nah, silalah salurkan sepuasnya.
Terbaca satu blog tadi tentang dakwah seorang doktor. Ya, seorang doktor itu mempunyai peluang dakwah yang tinggi! Kerana merekalah orang yang dipercayai oleh pesakit.. Faktor percaya itu ada. Jadi, dakwah sangat mudah dilakukan.
Namun setelah beberapa bulan mula clinical ni, saya rasa boleh dihitung dengan jari berapa kali saya berusaha memberi 'sesuatu' kepada pasien dan keluarga. Paling pun, memujuk mereka supaya bersabar dan berfikiran positif, melayan mereka dengan santun.
(Janganlah sesekali menganggap pasien ni sesuatu yang menyusahkan... Pasienlah yang mencuri masa tidur kita, disebabkan pasienlah kita hilang waktu bersama keluarga dan teman... hmm... Memang itu tugas doktor kan? Dan seseorang itu tidak pernah meminta untuk sakit. Sedangkan, daripada merekalah kita dapat banyak belajar. Manalah taknya doktor yang baru lulus asyik kena marah, kalau sikap sewaktu clinical begini. Kemudian kita marah kenapalah MO-MO ini sangat kejam? Oh...)
Berbalik kepada topik, disebabkan orang sekeliling kita juga jarang buat sesuatu, bila kita nak mulakan, pasti agak kekok. Tapi mengapa malu kalau membawa kebaikan kan? :) Jadi harus lebih semangat lepasni.
Biar kita yang mempengaruhi orang^^ Masakan doktor mahu ikut-ikutan aja orang lain kan?
Cumanya.. pernah tak alami, bila kita berusaha 'sampaikan' sesuatu, pihak yang menerima mengatakan 'baik ustazah' atau perkataan yang sama waktu dengannya? Oh bunyinya seperti memerli bukan? Ish. Spoil betul.
Sakit hati dan macam-macam lagi... hoho. Mungkin harus dikoreksi sedikit hatinya... Karena kita beramal bukan untuk manusia lain. tapi kerana Allah... Jadi mengapa harus terasa dengan suara-suara nakal orang lain? Tak coollah. Dah buat kebaikan, lupakan saja amal tersebut. Pasti ada makhluk yang mengingat dan mencatat:) dan pasti, DIA yang Melihat.
Bagaikan kita sedang menghadapi ujian praktikal... Setiap gerak-geri kita waktu itu diperhatikan oleh penguji! Kita buat, buat dan buat, dokter tick, tick dan tick. Kadang-kadang, kalau salah, kena tolak markah. Kadang-kadang, tak ditolak cuma tak dapat markah je. Akhir sekali, dihitung totalnya. Lulus ga ya?
Terkadang markah akhirnya kita tak dapat tahu pun...
Sebegitu jugalah kita dan kehidupan kita... Ujian untuk melihat siapa yang paling baik amalnya. Namun bezanya, setiap kebaikan yang dibuat, dibalas berganda-ganda.. Kesalahan yang satu, dosanya ya itu, cuma satu. Boleh lagi nak hilangkan dengan taubat, amal soleh, sedekah. Banyak...
Atas Rahmat Allah juga, sekelip mata boleh diampunkanNya, barangkali atas amalan kita yang ikhlas disisiNya atau apa saja kehendakNya....
Manusia, seringkali 'take things for granted'.
Biasanya benda-benda besar kita nampak namun perkara kecil sering kita remehkan... sedangkan perkara yang dikatakan remeh itulah yang mungkin menentukan ke mana destinasi kita di akhirat kelak.
Saya maksudkan hubungan dengan keluarga, jiran dan sahabat-sahabat yang dekat dengan kita.
Bagaimanakah kita menyantuni mereka?
Kadang-kadang, kita fikir disebabkan kita rapat dengan orang itu, maka mereka patut menerima kita seadanya walaupun kita banyak berbuat salah kepada mereka.
Kitalah yang harus memegang pemikiran sebegitu. Bukan mengharapkan orang lain...
Sebagai sahabat, tetangga, anak, adik, kakak atau abang, wajar bahkan wajib untuk kita menyantuni mereka dengan baik dan cermat.
Cuba kita fikirkan sebentar, adakah pernah terdapat kata-kata kita yang menyakiti orang yang terdekat dengan kita? Mungkin tidak kita sedari perkara ini. Atau kita menyangka orang itu tidak marah atau berkecil hati sebab 'kita kan kawan'...
Barangkali terpengaruh dengan cerita-cerita di tv, dimana ada watak-watak sekelompok sahabat yang terlalu jujur antara satu sama lain, hingga ke tahap menghina kawan secara gurauan pun tidak menjadi masalah.
Dari satu sisi, kejujuran mereka itu harus kita contohi. Namun tidaklah sampai akhirnya terlalu jujur hingga menyakiti orang-orang di sekeliling kita dan menyebabkan mereka menjauh dari kita..
"Sesungguhnya manusia paling buruk kedudukannya di sisi Allah adalah orang yang ditinggalkan manusia lain karena ditakut keburukannya.” (HR Imam Bukhari, Muslim, Abu Daud dan At Tirmidzi)
Semoga kita dijauhkan dari termasuk golongan di atas...
Jujur, itu pasti... Mempunyai sifat rahmah terhadap orang yang dekat dengan kita juga haruslah seiring.
Indahnya Islam, mengajar kita untuk sederhana dalam segala segi.
Jangan melampau, dan jangan meremehkan segala sesuatu. Meskipun titik tengah itu terkadang sukar untuk kita temui, insyaAllah usaha kita ke arah itu sentiasa dinilai olehNya insyaAllah...
Dari ‘Ummul Mu’minin ‘Aisyah ra berkata: Rasulullah Salallahualaihiwassalam bersabda :
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR At-Tirmidzi)
Cermatilah gurauan yang kita lemparkan.
Hati-hati dengan kata-kata yang kita lontarkan.
Meskipun kita tidak menyukai seseorang, itu bukan lesen untuk kita melayaninya dengan buruk..
Allah itu Maha Pengasih. Dia tidak akan menghukum kita atas apa yang di dalam hati kita, namun Allah akan hukum kita atas apa yang kita lakukan dengan anggota kita.
Terkadang Allah menguji kita dengan orang-orang yang berada di sekeliling kita.
Kita disakiti, adakah kita akan turut menyakiti?
Atau kita tetap memaniskan muka terhadap orang-orang yang mungkin belum memahami?
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” ( Luqman: 18).
Ibnu Katsir menjelaskan mengenai ayat tersebut, “Janganlah palingkan wajahmu dari orang lain ketika engkau berbicara dengannya atau diajak bicara. Muliakanlah lawan bicaramu dan jangan bersifat sombong. Bersikap lemah lembutlah dan berwajah cerialah di hadapan orang lain” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 11: 56).
Susahlah kan hidup ni kalau semua benda nak stress memanjang. Orang yang melihat wajah kita pun jadi serabut. Banyakkan senyum, sedekah free dengan mengeluarkan tenaga dan kontraksi otot yang sedikit :p
Makanya... harus merendahkan hati. Tawadhu' itu amalan hati yang memerlukan hati yang bersih. Sekadar nasihat untuk diri sendiri terutamanya, berusahalah untuk melembutkan hati dalam berbicara.
Bukanlah salah untuk menyampaikan pendapat kita, namun nada yang lembut dan bahasa yang elok itu lebih lunak pada telinga pendengar, bukan? Saya sendiri merasai kesukaran ini, mungkin kerana kononnya tegas jadi percakapan pun tidak terlalu diperhatikan. -_-'
Mungkin sebab tu sekarang dah jadi makin pendiam.
(Not good sebab macam mengelakkan sesuatu tanpa memperbaikinya. Doakan saya ya.)
Apapun sebagai dai'e, suka tak suka, kena jadi approachable. Bukan peramah, kena jadi peramah.
Tak suka senyum, kena banyak senyum. Suka menyorok dalam bilik, kena rajin keluar berjumpa adik-adik.
Pokoknya akhlak kita kena sentiasa diperbaiki dan diperhatikan.
“Sesungguhnya kalian tidak bisa menarik hati manusia dengan harta kalian. Akan tetapi kalian bisa menarik hati mereka dengan wajah berseri dan akhlak yang mulia” (HR. Al Hakim dalam mustadroknya. Al Hakim mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Akhirul kalam, semoga kita menjadi manusia yang sentiasa bergerak ke arah kebaikan. Semoga dosa-dosa kita tidak membelenggu kita daripada kembali kepadaNya.
Tipsnya mudah. Peliharalah hubungan dengan Allah. Jangan pernah meninggalkan al-Quran dan mentadabburi ayat-ayatnya kerana di situlah sumber hidayah buat kita sehari-hari...
"dan barangsiapa berpaling dari pengajaran Allah yang Maha Pengasih (al-Quran) , Kami biarkan syaitan (menyesatkannya) dan menjadi teman karibnya" ( Az-Zukhruf 43: 36 )
Gerun bila fikir jika Allah meninggalkan kita, dan di tangan syaitan pulak tu. Memang prognosis buruklah jawabnya. huhu.
Jom menjadi manusia yang lebih baik! biiznillah... :)
p/s: Adik-adik cakap muka makin berseri-seri sejak kebelakangan ni. Iyolah tu. Nampak sangat rinduu. ekeke
p/s2: Akibat lama tidak menulis, tanda-tanda berkarat sudah kelihatan.
Kita hanya manusia, dan manusia sering terlupa. Marilah mengingatkan sesama kita, moga berjumpa di syurga~
Bagi kalian itu perkara biasa, namun sang perempuan yang terseksa. Ini pemerhatian saya daripada banyak perkara yang berlaku di sekeliling. Selepas tu barulah nak saling menyalahkan antara satu sama lain, yang peliknya, kita jarang nak menyalahkan diri sendiri terlebih dahulu...
Laki: "Sapa suruh pikir lain? Aku tak pernah mengaku apa2 pun"
Perempuan: "Action speaks louder than words! Dah tau tak suka buat apa nak baik-baik dengan aku!?"
Pengajarannya: Ikutlah jalan yang selamat, jangan menjerumuskan diri sendiri ke dalam lembah kebinasaan. Carilah jalan yang selamat itu...
وَنَفْسُكَ إِنْ أَشْغَلَتْهَا بِالحَقِّ وَإِلاَّ اشْتَغَلَتْكَ بِالبَاطِلِ
So even if you're halfway down that road, or getting there, just remember that Allah loves the people of taqwa.
Kita hanya manusia, dan manusia sering terlupa. Marilah mengingatkan sesama kita, moga berjumpa di syurga~
![]() |
| tunjukkan aku jalan yang lurus ya ALlah~! (kredit kepada pemilik gambar) |
Seek first to understand, then to be understood.
Latih diri untuk mendengar, dan cuba mendengar apa inti daripada setiap pembicaraan.
Keimanan kita harus diuji.
Jika kita tidak mampu menjawab persoalan asas tentang agama kita, itu tanda iman kita bagai iman orang Quraisy yang sekadar mengikuti agama nenek moyang. Agama tradisi. Jangan~ Kenalilah Islam. Fahamilah Islam :)
(Namun kadang-kadang, dalam sebuah perbincangan, kita menyangka kita berada di pihak yang benar hanya kerana soalan kita tidak dijawab oleh sebelah pihak lagi. Sedangkan diam itu pada pandangan saya ada dua, diam orang jahil yang tidak tahu, dan diam orang 'alim dan berfikrah yang bijak menilai saat bila harus bercakap, dan saat bila harus diam. ^_^)
Apapun, fikirkanlah kembali apa sebenarnya niat kita, jika di pengakhirannya siapa yang benar atau salah yang muncul di fikiran, bukan APA yang benar dan apa yang salah.
Ingatlah kembali sahabat Huzaifah Al-Yamani, yang sering bertanya nabi sallallahu 'alaihi wasallam tentang apa itu keburukan, supaya dia tidak terjerumus ke dalamnya.
If we don't have a torchlight, we're more prone to fall into a well, no? :)
![]() |
| sumber sama spt di bawah |
![]() |
| [link] dan artikel best |
Sebagian saudara-saudara kita mengatakan bahwa Dr. Aidh Al Qarni itu akidahnya bercampur dengan akidah khawarij, dan juga dikatakan beliau memiliki permusuhan dengan syaikh muhaddist Al Albani (rhm.). Bagi mereka yang menyangka demikian, maka Rasulullah bersabda:
“Orang yang menuduh harus memberikan bukti dan yang dituduh memberikan sumpah” (Tirmidzi, no. 1261)
Tentunya kita tahu tentang larangan ntuk mencela ulama apalagi tidak terdapat bukti yang jelas, Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak termasuk umatku; orang yang tidak memuliakan orang yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak seorang ulama” (Ahmad, no. 21693)
Berikut ini kami berikan bukti berupa fatwa Syaikh Bin Baz mengenai Dr. Aidh Al Qarni, dll. Maka simaklah:
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Kerajaan Saudi Arabia
Lembaga Fatwa Kantor Mufti Besar Kerajaan
Nomor : 970
Tanggal : 10/4/1414
Dari: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz kepada yang terhormat saudaraku….. yang dimuliakan, semoga Allah membimbingnya kepada keridhaan-Nya. Amin.
Assalamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakatuh.
Saya telah menerima surat anda dimana anda bertanya kepada saya tentang (hukum) mendengarkan kaset-kaset, khutbah-khutbah, kuliah-kuliah, dan buku-buku dari sejumlah da’i dan ulama seperti Syaikh Aidh Al Qarni, Syaikh Salman Al Audah, Syaikh Nashir Al Umar, Syaikh Safar Al Hawali, dan Sayikh Abdul Wahhab Ath Thariri; Apakah mereka itu termasuk ahlu bid’ah dan dapat dikatakan sebagai kelompok yang menyimpang (sesat), apakah mereka bukan termasuk salafiyin, dan apakah mereka itu khawarij? Juga, bagaimana hukum membicarakan mereka di belakang mereka (ghibah)? Semoga Allah menunjuki anda kepada hidayah-Nya.
Jawaban:
Kaset-kaset rekaman mereka adalah bermanfaat, mereka bukan ahlu bid’ah dan bukan pula khawarij. Ghibah terhadap mereka tidak dibenarkan. Bahkan sebaliknya harus membela mereka sebagai orang-orang yang berilmu dikalangan ahlu sunnah wal jama’ah, sekalipun tidak ada di antara mereka yang maksum (terjaga dari perbuatan salah). Demikian pula halnya dengan ulama yang lain. Setiap orang dari mereka bisa saja salah dan bisa juga benar. Karena itu, boleh mengambil perkataanya yang benar dan meninggalkan perkataannya yang salah.Kita juga harus bersikap baik semampu mungkin terhadap mereka, kita harus menjaga nama baik saudara-saudara kita (sesama muslim).
Dalam sebuah hadist, Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap anak keturunan Adam bisa berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah dalah mereka yang bertaubat.” (Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah)
Beliau juga bersabda dalam hadist shahih:
“Apabila seorang hakim mengambil kepoutusan, lalu dia berijtihad dan ijtihadnya itu benar, maka dia mendapatkan dua pahala. Dan jikadia mengambil keputusan, lalu berijtihad dan salah, maka dia mendapatkan satu pahala.” (Bukhari, Muslim, Abu Daud)
Masalah-masalah seperti ini juga berlaku bagi ulama-ulama yang lain. Maka siapa saja yang ijtihadnya benar, dia mendapatkan dua pahala dan apabila ijtihadnya salah dia mendapatkan satu pahala. Jika orang yang berijtihad itu adalah seorang ulama dan ikhlas melakukannya karena Allah.
Saya memohon kepada Allah semoga kita semua selalu mendapat bimbingan dan ridha-Nya, dan melindungi kita dari kesesatan. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar segala sesuatu dan Maha Dekat.
Wassalamu’alaykum wa rahmatullaahi wa barakatuh
Mufti Umum Kerajaan Saudi Arabia
Ketua Lembaga Ulama Besar dan Departemen
Pengkajian Ilmiah dan Fatwa
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
(diambil dari http://www.abubaseer.bizland.com, http://salahmera.com,http://smd.antibidah/?99)
Benarlah apa yang dikatakan Syaikh Bin Baz (rhm) di atas bahwa diperbolehkan mengambil ilmu dari mereka. Hal ini senada dengan apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abdul Barr yang meriwayatkan dari Ibnu Abbas, Malik bin Dinar dan Abi Hasim: “Ambillah ilmu dimanapun anda mendapatinya, dan janganlah anda menerima pendapat fuqaha yang saling membantah satu sama lain, mereka saling cemburu seperti kambing hutan saat berada di kandangnya.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi)
Dan memang ulama seperti Aidh Al Qarni, Salman Al Audah atau Safar Al Hawali pasti memiliki kesalahan, namun bukan berarti kita sampai harus menjaga jarak. Bukankah Syaikh Al Utsaimin (rhm) berkata:
“Barangsiapa yang kesukaannya adalah menjelek-jelekkan ulama dan membuat orang lari dari mereka, serta memperingatkan orang agar berhati-hati dengan mereka; sesungguhnya yang dia lukai bukan hanya seorang ulama saja, melainkan perbuatannya itu melukai peninggalan Nabi Muhammad SAW.”(www.islamgold.com)Ibnu Taimiyah (rhm) pun berkata, “Banyak kalangan ulama salaf maupun khalaf yang mengatakan atau mengamalkan sesuatu yang sebenarnya perbuatan bid’ah. Atau kadang hadist dhaif dikira hadist shahih, atau karena ayat Al Quran yang tidak mereka pahami sebagaimana maksudnya. Atau mungkin suatu masalah yang belum sampai hujjahnya kepada mereka. Dalam hal ini jika ia adalah orang yang bertakwa kepada Rabb-Nya sekuat tenaga, maka dia termasuk orang yang Allah firmankan: Ya Tuhanku, janganlah Kau siksa kami jika kami lupa atau tersalah.” (Majmu Fatawa, 19/191-192).
Perkataan Ibnu Taimiyah tersebut mengindikasikan bahwa apabila orang tersebut melakukan kesalahan namun itu tidak disengaja atau dia sudah berusaha semaksimal mungkin, maka kesalahannya diudzur oleh Allah SWT.
Dan teladanilah sikap Ibnu Qayyim (rhm) ketika ia membantah seorang tokoh sufi bernama Abu Ismail yang melakukan kesalahan dalam kitabnya. Beliau berkata: “Abu Ismail adalah kekasih kami, akan tetapi kebenaran lebih kami cintai daripada beliau. Dan Ibnu Taimiyah pun berkata: ‘Amalnya (Abu Ismail) lebih baik daripada ilmunya.’ Benar apa yang dikatakan beliau, sebab perjalanannya (Abu Ismail) dalam menyuruh yang ma’ruf dan melarang yang munkar serta jihadnya melawan ahlu bid’ah tidak diragukan lagi, dan dia punya kedudukan yang masyhur dalam menolong Allah dan Rasul-Nya, dan Allah enggan menjadikan manusia terjaga dari kesalahan selain Muhammad yang tidak berbicara menurut hawa nafsunya. Abu Ismail telah salah dalam hal ini dari segi lafaz maupun makna.” (Madarijus Salikin 3/394)
Akhir kata kami ucapkan Wassalam….
~artikel asal~
![]() |
| credit : [link] |
Hadis riwayat Abdullah bin Masud Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Aku masuk menemui Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam ketika beliau sedang menderita penyakit demam lalu aku mengusap beliau dengan tanganku dan berkata: Wahai Rasulullah! Sesungguhnya engkau benar-benar terjangkit demam yang sangat parah. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Ya, sesungguhnya aku juga mengidap demam seperti yang dialami oleh dua orang di antara kamu. Aku berkata: Itu, kerana engkau memperoleh dua pahala. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Benar. Kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Tidak ada seorang muslim pun yang tertimpa suatu penyakit dan lainnya kecuali Allah akan menghapus dengan penyakit tersebut kesalahan-kesalahannya seperti sebatang pohon yang menggugurkan daunnya. (Hadith Riwayat Muslim No.4663)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sesungguhnya besarnya pahala tergantung besarnya ujian. Jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka. Barangsiapa yang redha, maka mereka akan mendapatkan keredhaan Allah. Dan siapa yang murka, maka akan mendapatkan murka Allah.” (Hadith Hasan Riwayat At Tirmidzi)
Sweet kan? ^_^Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,
“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan keadaan agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kukuh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualiti agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan ujian hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (Hadith riwayat Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad Darimi no. 2783, Ahmad (1/185). Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 3402 mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Sungguh, Allah sebaik-baik Perancang.
Saat kami menerima jadual peperiksaan, cuma Allah yang tahu perasaan di hati.
Dengan diri sendiri yang memang sudah lama 'sakit rumah' (baca: homesick) berbulan-bulan, tiba-tiba FK bagi kejutan bom. Jadual peperiksaan ditukar, dan cuti dipendekkan menjadi kurang daripada seminggu. Tiket pula sudah dibeli. Maka, bermulalah sesi menangis di ceruk-ceruk FK(Fakultas Kedokteran). Adeh. Malu pulak bila ingat balik. Sengal betul.
Menangis dan menangis. Memang sensitif habislah.
Saya ni memang tak boleh disentuh, bila tiba masa-masa empangan hampir roboh, tiba-tiba ada yang pegang bahu, ha memang runtuhlah empangan jawabnya. Jadi, lain kali kalau nampak saya nak nangis tu, biar je. Kalau boleh kasi tampar sikit. Eh?
Dah lari jauh ni.
Jadi, jadual exam dah ditukar, tiket baru pun dibeli. (ceh penat je nangis konon tak dapat balik)
Ditambah pula, SOOCA dan OSCE jatuh pada minggu pertama exam, dan berturutan pada minggu yang sama. Dan jika gagal mana-mana, remedialnya 2 minggu kemudian, iaitu:
Isnin Remedial OSCE;
Selasa MDE Respiratory System;
Rabu Remedial SOOCA.
Tiga exam yang besar, tiga hari berturut-turut.
Tak ke kurang siuman jadual examnya? Ya Allah. Memang menduga kesabaran betul FK ni. Mujurlah tak ada dengar kes schizophrenia ke apa. Mental disorder yang lain tu mungkin dah ada lah kot. Allah al-musta'an.
Tapi, sungguh, Allah Maha Mengetahui.
Saya dijadualkan OSCE pada hari Rabu, hari terakhir. Jadual SOOCA pula keluar lambat. Pada mulanya, Khamis semua mahasiswa KPBI SOOCA. Rasa nak pitam mendengarnya. Alhamdulillah, akhirnya berjaya ditukar, dengan perbincangan dengan pihak SBP.
Nak dijadikan cerita. Pada hari saya OSCE juga, merupakan giliran memberi tazkirah di Caspel.
Tajuk- Al-Quran. Allah bukakan hati untuk memilih surah Al-Anfal, tentang perihal perang Badar. Khusus untuk ahli rumah yang majoriti ber'perang' dengan SOOCA pada esok dan lusa.
Pada bahagian awal surah Al-Anfal itu, meskipun cuma beberapa ayat, namun sangat banyak isi dan ilmu di dalamnya. Sungguh, ilmu Allah itu sangat luas.
Tafsir Ibnu Katsir dirujuk. Di dalamnya, kisah pembahagian 'anfal' - rampasan perang, perihal taqwa, ciri-ciri mukminun dan munafiqun, 'wajilat qulubuhum', iman, tawakkal, dan ibrah daripada para sahabat yang sanggup berkorban harta dan nyawa, segala-galanya demi Rasulullah saw, demi menegakkan Islam.
Tentang Abu Bakar, sahabat yang sentiasa menenangkan Rasulullah, saat Rasulullah menangis berdoa kepada Allah supaya diberikan kemenangan dalam perang Badar, dialah yang menenangkan baginda, memegang tangan baginda dan mengatakan;
"Cukuplah."
Semoga kita dapat menjadi sahabat penyejuk hati seperti itu :')
Tapi yang paling saya ingat, tentang tawakkal.
Orang-orang yang beriman;
Tidak berharap kepada sesuatu apapun kecuali kepada ALLAH;
Melakukan sesuatu perkara hanya keranaNya;
Mencari perlindungan kepada Allah sahaja;
Hanya kepada Allah kita meminta,merayu,mengharap dengan bersungguh-sungguh bagi segala keinginan kita;
Beribadah; berdoa hanya kepadaNya;
Meyakini bahawa; apa yang Dia takdirkan, PASTI akan berlaku dan apa yang Dia tidak izinkan berlaku, TAKKAN berlaku;
Meyakini bahawa; DIAlah yang Maha Esa, yang berkuasa atas Malik(Kerajaan)Nya;
Meyakini bahawa; Tiada siapa mampu untuk mengubah ketentuanNya; dan
Meyakini bahawa; ALLAH Maha Cepat perhitunganNya.
Sungguh besar sebenarnya hakikat tawakkal itu. Bukan hanya selepas berusaha, tetapi dalam seluruh urusan kita, harus diserahkan kepadaNya, mengharapkan dia memperbaiki segala urusan kita, kerana jika diserahkan kepada kita, pastilah rugi kita, kerana kita punya segala macam kekurangan dan kehinaan dan segala kesempurnaan hanya milikNya.
Sebab itu Sa'id bin Jubayr mengatakan, 'tawakkal kepada Allah adalah inti dari keimanan'
atau dalam bahasa Inggerisnya, 'tawakkal to Allah is the essence of faith'
Inti. Essence. Menunjukkan sangat pentingnya tawakkal itu.
Alhamdulillah, diri ini ditakdirkan untuk gagal pada hari SOOCA pada Jumaat, dua hari selepas memberi tazkirah tentang surah itu.
Subhanallah. Tiada apa yang boleh dikatakan, melainkan Dialah sebaik-baik perancang.
Tiada langsung kekesalan di hati atas kegagalan itu, kerana cuma kita dan Dia yang mengetahui sebanyak mana usaha kita, dan pasti Dia mengetahui yang terbaik untuk hambaNya, dan takkan Dia uji melainkan Dia mengetahui kita MAMPU untuk menghadapiNya.
Belum tentu orang lain yang lulus mampu, tetapi Allah memilihku, jadi PASTI aku mampu menghadapiNya!
Tidak perlu menyesal. Kan?
Alhamdulillah, aku gagal SOOCA kali pertama:)
Alhamdulillah, aku tidak gagal menerima ujianNya.
Alhamdulillah, minggu remedial dan MDE itu juga berlalu dengan baik.
Segala puji hanya milikNya.
Sekarang, minggu peperiksaan sudah hampir habis, cuma 2 peperiksaan tinggal sebelum pulang ke Malaysia sebentar.
Moga Allah permudahkan segala urusan ini:)
p/s: Islam tidak pernah menolak fitrah. Dan perasaan itu merupakan fitrah bagi manusia. Jadi bagaimana? Contohilah Rasulullah saw, teladan terbaik bagi manusia:)
“Sesungguhnya Allah itu tidak menyeksa kerana titisan air mata kesedihan hati, tetapi Allah hanya akan menyeksa kerana ini, (beliau menunjuk kearah lidahnya) atau Allah akan mengampuninya.”
(HR. Al-Bukhari)
Dalam suatu hadith lain;
Anas bin Malik radhiallaahu anhu pernah meriwayatkan ketika putra Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, Ibrahim akan meninggal, ia datang menemui Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sedangkan Ibrahim nafasnya sudah termengah-mengah, maka kedua mata beliaupun berlinang air mata.
Dalam riwayat lain disebutkan beliau mengambilnya dan meletakkannya di atas pangkuan sambil berkata: “Wahai anakku! Aku tidak memiliki hak kuasa apapun yang dapat kuberikan kepadamu di sisi Allah”.
Melihat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menangis, Abdul Rahman bin Auf dan Anas lalu bertanya: “Wahai Rasulullah mengapa kamu menangis? Bukankah kamu telah melarang menangis?’
Beliau menjawab : “Wahai Ibnu Auf, sesungguhnya tangisan itu adalah rahmat, dan barangsiapa tidak memiliki kasih sayang maka ia tidak mendapatkan kasih sayang”, kemudian beliau bersabda lagi: ” Sesungguhnya air mata boleh berlinang, hati juga boleh berduka namun kita hanya mengucapkan apa yang diredhai Tuhan kita. Wahai Ibrahim, sungguh kami sangat bermuram durja kerana berpisah denganmu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Apapun, jangan sampai hati kita menangis kerana menolak ketentuan Allah yang menimpa. Ketahuilah, Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hambaNya. Yakinlah, dan tabahlah menghadapi hidup dengan senyuman.
wassalam.
Kita hanya manusia, dan manusia sering terlupa. Marilah mengingatkan sesama kita, moga berjumpa di syurga~
Reminder for the soul
Aku hairan dengan orang yang tahu bahawa dunia adalah sementara, tapi mengapa ia sangat mencintainya;
Aku hairan dengan orang yang mengetahui semua urusan telah ditakdirkan, tapi mengapa ia takut kehilangan;
Aku hairan dengan orang yang mengetahui bahwa hisab adalah suatu kepastian, tapi mengapa ia tetap mengum
Aku hairan dengan orang yang mengetahui panasnya api neraka, tapi mengapa ia tetap berbuat dosa;
Aku hairan dengan orang yang mengaku mengenal Allah, tapi mengapa ia meminta tolong kepada selain-Nya;
Aku hairan kepada orang yang mengaku mengetahui kenikmatan syurga, tapi mengapa ia merasa hidup tenang di dunia;
Dan aku hairan kepada orang yang mengetahui syaitan adalah musuhnya, tapi mengapa ia mentaatinya.”
Uthman bin Affan Radhiyallahu anhu



