Lilypie First Birthday tickers
Showing posts with label nasihat. Show all posts
Showing posts with label nasihat. Show all posts

Hikmah Doa Lambat Termakbul

http://faidah-ilmu.blogspot.com/2010/12/hikmah-di-balik-doa-yang-tak-terkabul.html

Berkata Imam Ibnul Jauzi (wafat 597 H) dalam kitabnya Shaidul Khatir :

“Aku pernah ditimpa kesusahan yang mendalam. Aku memperbanyak doa sambil memohon agar dilepaskan dari ujian ini. Tetapi jawabannya sangatlah lambat. Maka, mulailah jiwaku gelisah. Tetapi saat itu aku mulai memperingatkan jiwaku.

Aku berkata kepada jiwa : “Celakalah engkau! Merenunglah! Apakah engkau hamba atau seorang yang merdeka yang dapat berbuat semaunya? Tidakkah engkau berfikir, engkaukah yang mengatur segalanya atau ada yang mengaturmu? Tidakkah engkau tahu bahwa dunia ini adalah tempat ujian dan cobaan? Jika engkau minta dipenuhi segala keinginanmu, namun engkau tidak mampu bersabar ketika tidak mendapatkan apa yang engkau inginkan, lalu dimana letak ujian itu? Bukankah termasuk ujian ketika tidak dikabulkannya suatu keinginan? Wahai jiwa, pahamilah olehmu makna pembebanan syariat kepadamu, niscaya akan ringanlah yang berat dan akan mudah pula perkara yang sulit.”

Tatkala jiwaku merenungkan hal itu, ia sedikit tenang.

Aku katakan kembali kepada jiwaku : “Aku punya jawaban kedua. Engkau hanya menuntut hak-hakmu dan tidak pernah peduli dengan kewajibanmu, padahal itu adalah tindakan yang bodoh. Engkau adalah hamba. Hamba yang cerdas akan berusaha menunaikan hak-hak tuannya. Ia tahu bahwa bukanlah kewajiban seorang tuan untuk memenuhi semua yang diinginkan hambanya.”

Mendengar penjelasan itu, jiwaku semakin tenang.

Aku berkata kembali kepada jiwaku : “Aku punya jawaban ketiga. Engkau menganggap jawaban-jawaban bagi doamu sangatlah lambat. Padahal engkau sendiri menutup jalan terkabulnya doa dengan berbagai maksiat. Jika saja engkau buka kembali jalan itu dengan meninggalkan maksiat, niscaya akan dipercepat jawaban bagi doamu. Sepertinya engkau tidak tahu bahwa ketenangan diperoleh dari takwa. Tidakkah engkau membaca dan mendengar firman Allah Ta’ala, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangka … Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya (QS. Ath-Thalaq : 2 - 4).”

Jiwaku membenarkan ucapanku. Maka bertambah tenanglah dia.

Aku berkata lagi : “Aku masih punya jawaban yang keempat. Engkau meminta harta padahal engkau tahu akibat-akibatnya. Jika Dia mengabulkan, boleh jadi harta itu akan membahayakanmu. Engkau seperti anak kecil yang sakit gigi tapi meminta manisan. Padahal Zat yang mengaturmu lebih tahu apa yang terbaik bagimu. Bagaimana tidak, Dia sendiri telah berfirman, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu (QS. Al-Baqarah : 216).”

Ketika jiwaku memahami apa yang aku sampaikan, semakin mantaplah jiwaku dalam ketenangan.

Akupun mengakhiri nasihatku : “Ini jawaban terakhir. Ketahuilah bahwa apa yang engkau minta akan mengurangi pahala dan menurunkan derajatmu. Tatkala Dia tidak mengabulkan doamu, hal itu sebenarnya adalah sebuah pemberian yang sangat berharga dari-Nya untukmu. Jika engkau minta kepada-Nya apa yang terbaik untuk akhiratmu, maka yang demikian itu jauh lebih baik. Pahamilah kembali apa yang aku terangkan kepadamu.”

Akhirnya jiwaku berbisik, “Aku sungguh merasa sangat tenang dan damai.”

Kita hanya manusia, dan manusia sering terlupa. Marilah mengingatkan sesama kita, moga berjumpa di syurga~

The Soul


Salam alayk. It's been a while since I've posted anything here. SOOCA next week! Just a short note though. 

This is an excerpt from Saydul Khaatir, one of my favorite books.
Captured Thoughts.
Have you ever tried to capture them?
This blog and few others are my way to capture my thoughts... my deepest thoughts, are kept for myself though.
This book, for me, transcends all biographies. Not many scholars have written their thoughts, at least not that I know of ( which is a lot, meaning a lot that I don't know )
Reading it is really a potion for the soul.

The Soul Between the Enchantment of the Dunyaa and that of the Hereafter

When listening to a sermon or preaching, one’s heart may become vigilant but once one has left the gathering where Allaah is being mentioned, hardness and inattentiveness returns! Reflecting upon the reason for this sudden change, I realised what it was. I noticed that people vary when it comes to this (i.e. the effect of preaching on them).

Generally speaking the heart does not assume the same level of alertness during the preaching and after for two reasons:
Firstly: Preaching is like whipping which leaves no pain, but it hurts only while being whipped. Secondly: During the sermon, the listener normally has nothing to distract his attention. Mentally and physically setting aside worldly matters and listening whole heartedly. Then once back to the worldly life, he will be attracted by its allurements.

How then could one remain in the same state as prior to the sermon? This state of affairs happens to all humanity. However, this affect does vary with those who listen with their hearts. Some of them are unhesitatingly callous to what goes on around them.

If they are visited by life’s hustle and bustle, they become self conscious, as Hanzalah (the companion, radiya Allahu ‘anh) said about himself: “Hanzalah is a hypocrite…” [in a Hadeeth related by Muslim]

Some others tend to be of a more forgetful character. Sometimes though they excel (in good deeds) after listening to a sermon.

In fact, such people are like stalks that sway with the wind!
Others are but little affected; the effect on their hearts lasts only for the period of the sermon. It soon disappears, just like water when poured on a smooth rock!

~~~~~~~~~~~
Deep, no?
Life is a quest. A quest for meaning. But like Ustaz Hasrizal wrote in his blog,

'Is there Khidir to explain to us the wisdom of everything we face in life?'
[open Surah al-Kahfi if you don't know what I mean]

There is always a reason behind everything. Always. Nothing that happens is ever futile, if Allah led us to them...


If we put dunya as our barometer, we'll never truly find happiness. Those words above, sometimes feels like a stab in the heart, for truth very rarely doesn't hurt. The question is, when we stare at the truth right in the eye, can we recognise it? 

Me? Still searching, insyaAllah...

Biiznillah~

Kita hanya manusia, dan manusia sering terlupa. Marilah mengingatkan sesama kita, moga berjumpa di syurga~

tulisan.

Aku mahu menulis...
Namun aku bimbang, 
Tulisanku bakal melukai hati orang lain,
dan mungkin lebih-lebih lagi hatiku sendiri.
Maka aku memilih diam.

Bukankah sebaiknya kita begitu berhati-hati dengan tulisan kita?
Bimbang ianya menjadi saham untuk ke neraka...
Nauzubillah..

Sahabat, saudaraku,
Ampunkan aku
Maafkan aku
Andai pernah tulisanku mengguris hatimu
Bukan itu niatku
Anggap saja ianya kelemahanku
Semoga intinya dapat diungkap
dan niat asal tetap tersingkap

Aku sedar
Terkadang tulisanku bagai tikaman
Tajam dan berbisa
Tidak lembut dan tidak manis 

Seperti insan terpilih yang lain
Yang mendidik dengan kelembutan


Tiada manusia yang sama
Aku berbeza, kamu juga
Hatiku tidak ada yg dapat membaca
Hatimu juga tetap rahsia
Tulisan tetap kaku tanpa suara
Tanpa nada yang memberi rasa



Tuhanku,
Jangan kau hilangkan rasa kasih sayang dari hatiku
Semoga aku sentiasa melihat kebaikan manusia lain
dan menghisab kejahatan diriku
Asal keduanya tidak membutakanku
Dari didikan dan nasihat dariMu
Yang memegang qalbuku antara dua Jari*Mu



Kita hanya manusia, dan manusia sering terlupa. Marilah mengingatkan sesama kita, moga berjumpa di syurga~

Pisau

Setajam manapun pisau, sesakit mana ia saat ianya melukai kita, ia tetap mempunyai peranan yang tidak kurang kecil dalam kehidupan ini.



* Pisau hanyalah analogi ye, nampak takde pekdah sungguh tiba2 cakap pasal pisau-_-'

* Ya musharrifal qulub, sharrif qalbi 'ala to'atik.




Kita hanya manusia, dan manusia sering terlupa. Marilah mengingatkan sesama kita, moga berjumpa di syurga~

Takkan lepaskan kamu~


When it's black,
Take a little time to hold yourself,
Take a little time to feel around,
Before it's gone,


You won't let go,
But you still keep on falling down,
Remember how you saved me now,
From all of my wrongs yeah,


If there's love just feel it,
If there's life we'll see it,
This is no time to be alone, alone
I, wont let you go,


Say those words,
Say those words like there's nothing else,
Close your eyes and you might believe,
That there is some way out 


Open up,
Open up your heart to me now,
Let it all come pouring out,
Theres nothing I can't take,


If there's love just feel it,
And if there's life we'll see it,
This ain't no time to be alone, alone
I, wont let you go,


If your sky is falling,
Just take my hand and hold it,
You don't have to be alone, alone
I, won't let you go,


And if you feel the fading of the light,
And you're too weak to carry on the fight,
And all your friends that you count on have disappeared,
I'll be here, not gone, forever, holding on, Oh,


If there's love just feel it,
And if there's life we'll see it,
This ain't no time to be alone, alone
I, wont let you go,






* Dedicated to everyone who've helped me be who I am today. Uhibbukum fillah~
* I am extremely loyal, I'm not sure if it's a flaw or something. But that doesn't mean I'm bias. InsyaAllah. We must always be fair, especially to ourselves.
*You can count on your friends, but you can only rely on Allah. There is a big difference :)


* Soal akhlak sering jatuh ke no 2 apabila diri tidak rasional dan dikuasai emosi. Saat itu, segala apa yg kita ucapkan seolah-olah kita lupa. Jangan biarkan diri anda dikuasai ego, kerana ianya hanya sifat yang layak bagi ALLAH. Allah al-Mutakabbir~ Allah al-Azhim ~


* Ulang balik kata2 seseorang: lelaki selalu tak nak ngaku kalau ada masalah antara satu sama lain-__-' Siapalah yang selalu emo skarang~ hu


* Cermati setiap apa yang kita lakukan sepanjang masa. Kita adalah pemimpin, dan akan ada orang yang melihat dan menilai segala tingkah laku kita. Fikirlah wahai anda yang bernama PEMIMPIN~


* Peringatan itu bermanfaat bagi orang mukmin. Setiap nasihat, walau ditujukan kepada sesiapapun, anggaplah ianya buat kita.

Berakhlaklah Mulia Maka Engkau Akan Dicintai Manusia

Seorang pendakwah tidaklah cukup dengan berbekal ilmu saja, tetapi hendaklah ia membekali dirinya dengan akhlak mulia. Karena diantara sebab tidak diterimanya dakwah dalam masyarakat adalah bersumber dari kegagalan dalam berakhlak mulia. Maka hendaklah setiap orang yang berakal mengambil pelajaran daripadanya.


Sungguh tabiat manusia tidak menyukai akhlak yang tercela, meskipun pemiliknya adalah seorang yang berilmu nyaris sempurna. Imam Al-Khatib Al-Baghdadi (wafat 463 H) dalam mukaddimah kitabnya Iqtidha’ Al Ilmi Al Amal berkata : “Yang paling memprihatinkan adalah seorang ahli ilmu yang ditinggalkan manusia karena keburukan akhlaknya, atau seorang bodoh yang diikuti manusia karena banyak ibadahnya.” Renungkanlah perkataan beliau -rahimahullah- tersebut, maka akan kita dapatkan kebenaran kata-katanya.

Dalam sebuah syair dikatakan :

أحسن إلى الناس تستعبد قلوبهم
فطالما استعبد الإنسان إحسان

“Berbuat baiklah kepada manusia niscaya engkau akan mendapatkan hati mereka;
Betapa sering perbuatan baik itu dapat menundukkan manusia.”

Maka berakhlak mulialah kepada sesama manusia. Karena ilmu bukan hanya sekedar wacana, tapi 
juga menuntut pembuktian apakah seseorang sudah mengamalkan ilmunya.

http://faidah-ilmu.blogspot.com/2011/09/berakhlaklah-mulia-maka-engkau-akan.html


Kita hanya manusia, dan manusia sering terlupa. Marilah mengingatkan sesama kita, moga berjumpa di syurga~

“Dalam sebuah athar[10] sahih riwayat ad-Darimi, Abu Musa Al-Asy’ari radhiallahu ‘anh memberitahu Ibn Mas’ud radhiallahu ‘anh bahawa beliau melihat di masjid sekumpulan lelaki sedang duduk dalam halaqah-halaqah (bulatan) zikir untuk bertakbir, bertahlil dan bertasbih dengan menggunakan biji-biji batu mengikut cara yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga para Sahabat. Mendengar yang demikian itu, Ibn Mas’ud menuju ke tempat halaqah zikir itu lantas menegur mereka dengan katanya:

عَدُّوا سيِّئاتِكم فأنا ضامن أن لا يضيعَ من حسناتِكم شيء،

ويْحَكم يا أمّة محمد! ما أسرع هلكتَكم،

هؤلاء صحابة نبيكم صلى الله عليه وسلم متوافرون، وهذه ثيابه لم تبْلُ

وآنيته لم تُكْسر،

والذي نفسي بيده إنكم لعلى ملةٍ أهدى

من ملة محمد أو مفتّحو باب ضلالة؟

Maksudnya:

“Hitunglah amalan buruk kamu itu kerana aku jamin bahawa amalan baik kamu tidak akan hilang sedikitpun.

Celakalah kamu wahai umat (Nabi) Muhammad! Alangkah cepatnya kebinasaan kamu,

para Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masih ramai, baju Baginda inipun masih belum hancur
dan bekas makanannya pun belum pecah.

Demi yang nyawaku di TanganNya! Adakah sesungguhnya kamu berada di atas agama yang lebih baik

dari agama Muhammad atau kamu sebenarnya pembuka pintu kesesatan?”. 


Mendengar kata-kata Ibn Mas’ud ini, mereka menjawab:

والله يا أبا عبد الرحمن! ما أردْنا إلا الخير.

Maksudnya:

“Demi Allah wahai Abu ‘Abd Ar-Rahman[11]! Tujuan kami hanya untuk kebaikan”.

Mendengar jawapan mereka itu, lalu Ibn Mas’ud berkata:

وكم من مريدٍ للخير لن يصيبه

إن رسول الله صلى الله عليه وسلم حدثنا

(( أن قوما يقرأون القرآن لا يجاوز تراقيهم ))

وأَيْم الله ما أدري لعل أكثرهم منكم.

Maksudnya:

“Berapa ramai orang yang bertujuan BAIK tetapi tidak betul (caranya).
Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberitahu kami:
“Bahawa ada satu kaum yang membaca al-Quran tidak melebihi kerongkong mereka”[12].
Demi Allah! Aku tak tahu boleh jadi kebanyakan mereka itu adalah dari kalangan kamu”.


Menjelaskan kata-kata Ibn Mas’ud ini, ‘Amr Ibn Salamah[13] berkata (maksudnya):
“Kami melihat semua lelaki yang berada dalam halaqah itu menyertai puak Khawarij lalu menyerang kami pada hari peperangan An-Nahrawan” [14].

[10] Riwayat berkenaan amalan para Sahabat.
[11] Abu ‘Abd Ar-Rahman ialah kuniyah bagi Ibn Mas’ud. 
[12] Sahih Al-Bukhari, no:3166.
[13] Seorang tabien thiqah dan juga murid kepada Ibn Mas’ud yang meriwayatkan athar tersebut.
[14] Sunan Ad-Darimi, lihat: Islah As-Sajid oleh Al-Albani, hal:11.”


Kita hanya manusia, dan manusia sering terlupa. Marilah mengingatkan sesama kita, moga berjumpa di syurga~

Istiqamah is the key~


عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو: أَنَّهُ تَزَوَّجَ امْرَأَةً مِنْ قُرَيْشٍ، فَكَانَ لَا يَأْتِيهَا، كَانَ يَشْغَلُهُ الصَّوْمُ وَالصَّلَاةُ، فَذُكِرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: " صُمْ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ "، قَالَ: إِنِّي أُطِيقُ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ، فَمَا زَالَ بِهِ حَتَّى قَالَ لَهُ: " صُمْ يَوْمًا، وَأَفْطِرْ يَوْمًا "
وَقَالَ لَهُ: " اقْرَإِ الْقُرْآنَ فِي كُلِّ شَهْرٍ "، قَالَ: إِنِّي أُطِيقُ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ، قَالَ: " اقْرَأْهُ فِي كُلِّ خَمْسَ عَشْرَةَ "، قَالَ: إِنِّي أُطِيقُ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ، قَالَ: " اقْرَأْهُ فِي كُلِّ سَبْعٍ "، حَتَّى قَالَ: " اقْرَأْ فِي كُلِّ ثَلَاثٍ "
وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةً ، وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ ، فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّتِي، فَقَدْ أَفْلَحَ، وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ، فَقَدْ هَلَكَ "

Diriwayatkan oleh Abdullah bin ‘Amr bahawa beliau telah berkahwin dengan seorang wanita daripada Quraisy, dan beliau tidak pernah melakukan hubungan dengannya, kerana dia sibuk dengan puasa dan solat. Perkara ini disebutkan kepada nabi (sallallahu ‘alayhi wasallam), lalu nabi bersabda:
“Puasalah tiga hari setiap bulan.” Katanya: “Aku boleh lakukan lebih daripada itu.” Dan ini berterusan sehinggalah nabi bersabda kepadanya:
“Puasalah sehari dan berbuka satu hari.” 

Sabdanya lagi kepada Abdullah: “Bacalah (sehingga khatam) dalam masa sebulan.” Jawabnya: “Aku mampu lebih daripada itu.” Sabdanya lagi: “Bacalah dalam 15 hari.” Jawabnya: “Aku mampu lebih daripada itu.” Sabdanya lagi: “Bacalah dalam 7 hari.” Sehinggalah disabdakan:
“Bacalah dalam masa 3 hari.”

Nabi bersabda lagi: “Sesungguhnya bagi setiap amalan ada waktu shirrah, dan setiap shirrah ada waktu fatrah. Sesiapa yang fatrahnya di dalam sunnahku, maka dia telah berjaya, dan sesiapa fatrahnya (menjurus) kepada selain itu, maka dia akan binasa.”[Musnad Ahmad no. 6764 – disahihkan oleh Ahmad Shakir dan Shu’ayb al-Arna’ut]

“shirrah” bermaksud “الحرص على الشيء والنشاط فيه والرغبة” (ingin sangat kepada sesuatu, dan kecergasan di dalamnya, dan kegemaran) [Mirqat al-Mafatih oleh Ali al-Qari]
“fatrah” (dengan huruf ‘ت’, bukan fitrah dengan huruf ‘ط’) bermaksud “وهن وضعف” (lemah dan tidak upaya) [Mirqat al-Mafatih oleh Ali al-Qari]


Pengajaran Hadith:~


Bersederhana dalam amalan.

“sederhana” bermaksud tidaklah terlalu banyak sehinggakan kita akan ‘haus’ seperti tayar yang digunakan secara ekstrim akan ‘haus’ dengan cepat, lalu meletup atau menjadi tidak efektif, yakni menyebabkan amalan itu terhenti terus. Dan amalan tidak pula terlalu sedikit sehinggakan amalan yang biasanya dapat dilakukan ketika ‘fatrah’ (lemah atau malas) pun tidak diamalkan.

“amalan” di sini adalah amalan yang kita lakukan secara berterusan, kerana Allah sukakan amalan yang berterusan walaupun sedikit, seperti dalam hadith nabi.

Dalam hadith ini, Abdullah bin ‘Amr telah mengikut kecergasan beliau yang masih muda ketika itu untuk membuat amalan-amalan yang terlalu banyak, sehinggakan hak isterinya terabai. Maka nabi memberi nasihat kepada beliau agar mengurangkan amalan itu agar berpada-pada.

Namun cadangan nabi dibantah secara halus dengan mengatakan beliau mampu lebih daripada itu. Lalu dinaikkan sedikit demi sedikit sehinggalah ke tahap maksima, iaitu puasa nabi Daud (puasa selang sehari). Nabi mensyorkan kepadanya amalan yang beliau mampu lakukan dalam keadaan cergas mahupun malas, kerana yang pentingnya, berterusan.

Oleh itu:
1. Sekiranya Abdullah teruskan dengan berpuasa setiap hari dalam keadaan cergas, beliau telah menyalahi Sunnah dengan melepasi batas yang nabi letakkan.

2. Sekiranya Abdullah meneruskan amalan puasa nabi Daud, dikhuatiri beliau tidak dapat meneruskannya. Dan terbukti bahawa diriwayatkan kata-kata beliau menyesal tidak mengambil keringanan yang nabi syorkan, kerana setelah beliau tua, beliau tidak dapat meneruskan amalannya yang banyak itu.

3. Sekiranya Abdullah mengambil amalan yang sederhana, beliau akan dapat meneruskan amalan itu sehingga maut, dan itulah amalan yang paling disukai Allah.

4. Sekiranya Abdullah tidak berpuasa sunat langsung, tetapi puasa Ramadhan ditunaikan, perkara ini masih di dalam sunnah nabi (syariat nabi) dan ianya harus, tetapi beliau mampu melakukan amalan puasa sunat, sekurang-kurangnya 3 hari setiap bulan (seperti disyorkan nabi) maka beliau akan rugi kerana tidak melakukan amalan sunat yang mampu dilakukan.

5. Sekiranya Abdullah tidak menunaikan puasa wajib (Ramadan), samada seluruhnya atau sebahagiannya, maka beliau telah terkeluar batasan Islam, walaupun puasa sunat dilakukan secara berterusan!

6. Sekiranya Abdullah berpuasa hanya pada 15 Sha’ban sahaja, dikhususkan kerana dipercayai ada fadhilat padanya, walaupun tiada dalil, ataupun mengkhususkan hari Jumaat untuk berpuasa, maka beliau sudah melakukan perkara baru dalam agama.

Persoalan yang bangkit: Sekiranya elok beramal secara berterusan, maka kita memilih amalan yang sederhana, adakah ini melarang kita beramal dengan sunnah nabi yang lebih daripada kadar amalan sederhana?
Jawapannya: Tiada halangan untuk mengamalkan sunnah-sunnah yang lebih daripada kadar sederhana, untuk masa-masa cergas, atau bila banyak masa terluang, atau pada masa-masa yang digalakkan kita beramal lebih, tetapi tidak untuk dijadikan amalan berterusan (dawam) yang akan menyebabkan dia terhenti daripada beramal kerana sudah menjadi beban ke atasnya, semakin hari makin sukar menghadapinya lalu tersungkur di pintu syurga.

Contohnya: mengkhatam al-Quran setiap bulan sekali, adalah amalan yang dilakukan berterusan. Tetapi datang bulan Ramadan, maka digiatkan lagi bacaan al-Quran untuk bulan tersebut, lalu dikhatamkan setiap 3 hari sekali. Atau datang sepuluh 10 pertama Zulhijjah, maka digiatkan bacaan al-Quran, lalu dikhatamkan dalam masa 10 hari. Selepas itu, dia kembali mengamalkan amalan biasanya.

p/s: Sebelum ni, lafaz yang saya jumpa (terjemahan) adalah fitrah bukan fatrah. Jadi baru tau yang betulnya adalah fatrah~~~
(Nampaknya kena edit sikit hadith yang ada kat tepi blogku ini)

Selamat membaca dan selamat beramal :)

Istiqamah is the key~

Wallahua'lam~ 

Buat sahabat yang sangat aku sayangi

Sahabatku
Aku mengerti
Ujian yang menimpa ini sangat berat buatmu
Sangat menggugat kekuatanmu
Sungguh aku mengerti
Namun kau juga harus tahu
Ujian itu takkan pernah sia-sia
Kerana ia datang dari yang Maha Pencipta
Sebagai tanda kasihNya
Agar kau tidak alpa

Sahabatku
Aku tahu
Kau terseksa
Dengan pukulan demi pukulan
Yang seakan tiada henti
Sungguh aku fahami
Namun kau harus ingat
Pukulan itu hadir sebagai ingatan
Untuk kembali menginsafi diri
Di mana silapnya aku ini?
Hamba apakah aku ini?

Sahabatku
Aku tahu
Kau insan yang kuat
Yang mampu menghadapi semua ini
Namun insafilah jua
DIAlah sumber kekuatan paling utama
Dalam setiap perkara
Kembalikanlah padaNya
Dan setiap butir air mata
Adukanlah padaNya
DIAlah mujarab segala duka
Semoga mendung bertukar ceria

Sahabatku
Kau sahabatku yang tercinta
Hilangkanlah segala duka
Lupakanlah segala derita
Kerna semuanya hanya sementara
Berpegang teguh hanya padaNya
Pasti harapan takkan pernah sirna...

Jiwa seorang sahabat~

“Eeeee…geramnya dengan dia ni!!! Suka sangat sakitkan hati orang...arghhhhhhh”

“Sakitnya hati… kenapa tak sensitif sangat dengan orang lain??? Sampai bila nak sabar???”



Begitulah antara monolog-monolog dalaman yang mengambil tempat apabila hati kita disakiti oleh orang yang bergelar ‘sahabat’. Seringkali apabila nafsu amarah merajai diri, maka hilanglah segala pertimbangan dan rasional.

Rasa marah yang lahir apabila insan yang bernama sahabat seolah-olah tidak memahami kita, padahal sudah banyak yang dilalui bersama sepanjang perkenalan kita dengan orang tersebut.

Kadang-kadang, kita sebagai manusia yang sering terlupa, sering terlepas pandang apabila mendapat khabar gembira.Kita lupa, bukan semua orang mempunyai nasib yang sama dengan kita. Kita enak bergelak ketawa tanpa memikirkan mungkin teman kita di sebelah sedang berduka, sedang menangis di dalam hati.

Kita lupa, di saat kita seronok bergurau senda dengan suara yang kuat, mungkin teman di sebelah sedang cuba tidur, cuba membaca al-Quran, cuba menelaah pelajaran.
Adakah kita berhenti sejenak untuk memikirkan mungkin teman di sebelah kurang senang dengan tindak-tanduk kita?

Yang disebut di atas merupakan antara contoh yang sering berlaku dalam kehidupan kita, samada antara pelajar Malaysia, atau mungkin juga antara pelajar Malaysia dan Indonesia. Yang paling penting ia berlaku sesama saudara seIslam kita… Betapa kita sering terlupa untuk menjaga hablumminannas…

Hubungan sesama manusia…

Komunikasi tidak mungkin berjalan dengan baik tanpa kerjasama kedua belah pihak. Apabila berlaku salah faham atau apabila hati kita terguris, salah satu pihak haruslah ‘merendahkan diri’ dengan memberikan kemaafan.

Kemaafan bukanlah bermakna kita merupakan insan yang lemah, namun sebaliknya. Insan yang pemaaf merupakan insan yang kuat, kerana mereka mampu menolak ke tepi segala perasaan negatif demi menjernihkan hubungan, demi memelihara persaudaraan…

Saya pasti, apabila keadaan masih tidak berubah, apabila sahabat kita masih menyakitkan hati kita tanpa sedar, when push comes to shove, kita mungkin berasa tewas. Tewas untuk terus memaafkan dan mahu ‘memberikan peluang’ kepada marah untuk meraja di hati. Itu merupakan peluang yang tidak harus diberikan... teruskanlah bersabar, insyaAllah ada ganjaranNya di pengakhirannya nanti:)

Sebab itulah sebagai seorang bernama manusia, berusahalah untuk mengikis sikap mementingkan diri sendiri dalam diri kita. Cubalah letakkan diri kita dalam diri sahabat kita. Adakah kita akan suka mendapat sahabat seperti kita? Adakah kita telah cuba menjadi sahabat yang terbaik,atau adakah kita hanya mengharapkan teman kita menjadi sahabat yang paling sempurna, sedangkan kita??

Jika soalan-soalan itu ditanya pada saya… jujur jawapan yang akan diberikan adalah tidak, saya bukan teman yang sempurna kerana sedar bahawa sebagai manusia biasa, tak mungkin akan terlepas daripada khilaf. Tanpa kita sedari, mungkin ada tindakan atau kata-kata kita yang mengguris perasaan orang yang kita sayangi.




“Habis tu saya nak buat macam mana kak? Rasa macam dah buat banyak dosa dengan kawan saya…sob3…:(”

“Ha…kalau camtu kenalah belajar memaafkan kesalahan orang lain…Bila kita maafkan kesalahan orang pada kita, insyaAllah orang lain pun akan maafkan kita jugak bila kita buat silap:)”

“Ek?”

“Haah. Suburkanlah sifat pemaaf dalam diri kita. Jika orang selalu melakukan kesalahan terhadap kita, mungkin tanpa kita sedari kita lebih banyak berdosa terhadap orang lain kan? Yang tu baru dosa dengan manusia, cuba kita fikir pulak, berapa banyak dosa kita pada Allah?
Cuba kira, dapat?
Sangat banyak rasanya, tapi Allah tak pernah menutup ruang taubat selagi nyawa belum sampai ke halkum betul?"

*si adik mengangguk lemah*

"Hmmm...Apalah sangat diri kita… Malu sikit dengan Allah, kita yang tak ada apa-apa ni nak meninggikan diri dengan orang, nak marah-marah, dahlah banyak buat dosa, padahal Dia yang maha Khaliq pun rileks je nak maafkan dosa hamba-hambaNya kan?”

*si adik hanya terdiam sambil termenung jauh*


“Ha..cuba renungkan hadith ni,”

“Lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari kalian dan janganlah kalian melihat kepada orang yang lebih tinggi dari kalian, karena yang demikian itu lebih wajar agar kalian tidak menganggap rendah nikmat Allah Ta’ala yang telah dianugerahkan kepada kalian.” (Muttafaq ‘alaih)

“Waaah…akak ni hafal hadis ke? Waaaaaaaahhh”

*si adik bertanya sambil mata bersinar-sinar*

“Haha, tak adalah...tak adalah hafal mana pun... ingat sikit-sikit je…tapi rajin-rajinkanlah mencari ilmu ya? Rugi kalau tak nak ambil tahu, nanti tak kenal Nabi saw… Kalau tak kenal Nabi saw macam mana Nabi saw nak kenal kita kat akhirat nanti? Macam mana Nabi saw nak sayang?”

*si kakak menepuk-nepuk bahu si adik dengan lembut lantas meninggalkannya dengan persoalan tersebut...*




~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**~**~









Penjelasan hadis:

“Lihatlah” maksudnya:

Lihatlah dengan penglihatan yang dengannya kalian dapat mengambil pelajaran, bukan sekedar melihat tanpa mengambil pelajaran.

”Kepada orang yang lebih rendah dari kalian” maksudnya :

Dalam perkara dunia seperti harta benda, kesenangan dunia atau bentuk fizikal, hendaknya kita melihat kepada orang yang lebih ‘rendah’ dari kita atau kurang daripada kita, supaya kita lebih bersyukur dengan segala nikmat yang kita ada.





Wallahua’lam




p/s: best tak cerita saya? kui3 ^_~

Reminder for the soul

“Aku hairan dengan orang yang mengetahui kematian, tapi mengapa ia masih tertawa;

Aku hairan dengan orang yang tahu bahawa dunia adalah sementara, tapi mengapa ia sangat mencintainya;

Aku hairan dengan orang yang mengetahui semua urusan telah ditakdirkan, tapi mengapa ia takut kehilangan;

Aku hairan dengan orang yang mengetahui bahwa hisab adalah suatu kepastian, tapi mengapa ia tetap mengum
pulkan harta dan menghitung-hitungnya;

Aku hairan dengan orang yang mengetahui panasnya api neraka, tapi mengapa ia tetap berbuat dosa;

Aku hairan dengan orang yang mengaku mengenal Allah, tapi mengapa ia meminta tolong kepada selain-Nya;

Aku hairan kepada orang yang mengaku mengetahui kenikmatan syurga, tapi mengapa ia merasa hidup tenang di dunia;

Dan aku hairan kepada orang yang mengetahui syaitan adalah musuhnya, tapi mengapa ia mentaatinya.”

Uthman bin Affan Radhiyallahu anhu
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Masa umpama pedang